Otoritas Moneter Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) resmi menerbitkan seperangkat pedoman baru yang memperketat pengawasan terhadap pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di sektor finansial. Berdasarkan aturan tersebut, seluruh lembaga keuangan diwajibkan untuk mengelola risiko secara komprehensif, termasuk pada sistem kecerdasan buatan yang dikembangkan, dioperasikan, atau disediakan oleh pihak ketiga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kebijakan ini menegaskan bahwa institusi perbankan dan keuangan tetap memikul akuntabilitas penuh atas layanan yang diberikan kepada publik meskipun teknologi pendukungnya berasal dari vendor luar. MAS menekankan pentingnya bagi setiap perusahaan untuk mendapatkan jaminan yang memadai dari penyedia pihak ketiga serta mengevaluasi kesesuaian teknologi tersebut sebelum diterapkan.
Berdasarkan analisis dari pengamatan tim redaksi, langkah tegas ini diambil di tengah masifnya adopsi teknologi cerdas yang kian otonom dan canggih di industri keuangan global. Pemerintah Singapura menilai bahwa peningkatan kapabilitas sistem otonom harus diimbangi dengan tata kelola risiko yang ketat demi melindungi stabilitas sistem finansial nasional serta kepercayaan konsumen.
Dalam rilis resminya, MAS menyampaikan bahwa lembaga keuangan harus mampu menerapkan kontrol penyeimbang apabila ditemukan adanya celah jaminan atau kendala praktis dari penyedia layanan. "Jika risiko masih belum dapat ditekan sesuai selera risiko perusahaan, maka layanan tersebut harus dibatasi, ditangguhkan, atau diganti," demikian penegasan dari pihak bank sentral.
Pedoman baru ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 7 Oktober 2027 mendatang, di mana para pelaku industri diberikan masa transisi untuk mengimplementasikannya secara bertahap hingga memenuhi seluruh persyaratan penuh pada 7 Oktober 2028. Manajemen senior dan jajaran direksi juga dituntut untuk memberikan pengawasan efektif dengan menetapkan kerangka kerja serta peran tanggung jawab yang jelas.
Wakil Direktur Pelaksana MAS, Ho Hern Shin, mengakui bahwa teknologi canggih ini memiliki potensi besar dalam mendongkrak kualitas layanan finansial secara keseluruhan. Kendati demikian, ia mengingatkan agar para pelaku industri tetap memahami dan mengendalikan setiap celah risiko yang menyertainya agar manfaat inovasi dapat diraih secara berkelanjutan.
Mengutip laporan dari otoritas setempat, regulasi anyar ini merupakan hasil dari proses konsultasi publik yang telah diselenggarakan sejak akhir tahun 2025 lalu. Dengan adanya kejelasan regulasi yang lebih transparan, industri keuangan diharapkan dapat terus berinovasi secara percaya diri tanpa mengorbankan aspek ketahanan sistem dan perlindungan data nasabah.