Impian puluhan calon mahasiswa Politeknik Aceh Selatan atau Poltas dari keluarga prasejahtera untuk melanjutkan pendidikan tinggi kini berada di ujung tanduk. Mereka terancam gagal menerima bantuan Kartu Indonesia Pintar Kuliah akibat kendala teknis pada data tingkat kesejahteraan ekonomi keluarga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengakuan sejumlah calon mahasiswa, sistem online yang terintegrasi justru mencatat status ekonomi mereka berada pada desil 5 hingga 10. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mereka berasal dari keluarga sangat terbatas, bahkan beberapa di antaranya merupakan anak yatim yang sangat bergantung pada bantuan.
Mengutip laporan tim redaksi, salah satu calon mahasiswa bernama Alfarisi menyebutkan bahwa dokumen pengusulan perbaikan data sejatinya telah diserahkan kepada instansi berwenang. Kendati demikian, hingga kini perubahan status desil tersebut belum juga tampak mengalami pembaruan di dalam sistem nasional.
Menanggapi persoalan pelik ini, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Aceh Selatan, Eja Rinanda Irma, memberikan penjelasan resmi terkait mekanisme penetapan status tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa kewenangan mutlak untuk menaikkan atau menurunkan kategori desil sepenuhnya berada di tangan Badan Pusat Statistik pusat.
Menurut analisis awak media, lambatnya sinkronisasi data lintas instansi ini berisiko memupus asa generasi muda berprestasi dari kalangan bawah untuk mengenyam pendidikan tinggi. Pemerintah daerah diharapkan mampu menjembatani kendala administratif tersebut agar hak calon mahasiswa kurang mampu dapat segera terselamatkan.