Maskapai penerbangan bertarif rendah asal Malaysia, AirAsia, kembali berada di bawah sorotan tajam setelah laporan mengenai posisi keuangannya memicu perdebatan luas di kalangan pengamat industri. Meskipun sang Co-Founder, Tony Fernandes, dengan tegas membantah bahwa perusahaannya sedang berada dalam kondisi darurat, para analis keuangan menilai angka-angka di atas kertas menunjukkan realitas yang jauh berbeda.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang beredar, otoritas Malaysia dikabarkan sempat memetakan berbagai skenario dan memeriksa posisi keuangan maskapai tersebut, termasuk kemungkinan melibatkan maskapai pesaing untuk menyerap pangsa pasar domestik jika diperlukan. Namun, dalam sebuah pengarahan daring, Fernandes menepis kekhawatiran tersebut dan menyatakan bahwa perusahaannya selalu mampu bangkit lebih kuat dari setiap krisis yang pernah dihadapi.
Menurut pengamatan awak media dan ekonom dari Universiti Kuala Lumpur, Mohd Harridon Mohamed Suffian, publik tetap harus bersikap waspada terhadap berbagai indikator ekonomi yang menyertai maskapai ini. Ia menekankan pentingnya mencermati beban utang perusahaan secara menyeluruh di tengah serikat pekerja yang meminta agar tidak ada pemutusan hubungan kerja demi menjaga stabilitas karyawan.
Sementara itu, pendiri dan analis utama Endau Analytics, Shukor Yusof, mengungkapkan bahwa kekhawatiran ini sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan karena laporan keuangan perusahaan terbuka untuk publik. Data menunjukkan adanya ketimpangan antara jumlah kas yang dimiliki dengan liabilitas lancar yang nilainya jauh lebih besar, ditambah dengan tingginya volatilitas harga bahan bakar minyak jet akibat situasi geopolitik global.
Tim analisis mencatat bahwa absennya instrumen lindung nilai atau hedging membuat maskapai ini harus menanggung beban berat ketika harga bahan bakar melonjak di pasar terbuka. Langkah ekspansi yang agresif melalui pemesanan armada baru di tengah pengetatan sabuk industri global turut memicu tanda tanya besar dari para pakar aviasi internasional terhadap masa depan restrukturisasi keuangan mereka.