Nasib mujur menghampiri Risman Hardianto, seorang tukang becak yang sehari-hari membanting tulang di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Di tengah keterbatasan ekonomi dengan penghasilan pas-pasan, ia bersama keluarganya harus bertahan hidup di dalam rumah seluas 33 meter persegi dengan kondisi bangunan yang sangat memprihatinkan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, bagian atap rumah Risman terbuat dari asbes bekas yang kerap mengalami kebocoran parah saat hujan turun. Sementara itu, dinding bangunan penopang tempat tinggalnya sudah menggunakan triplek lapuk yang tidak kedap air, ditambah tidak adanya pondasi memadai sehingga sejumlah bagian dinding mengalami keretakan.
Kondisi memilukan tersebut akhirnya mendapat perhatian langsung dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti yang mendatangi kediamannya pada Minggu (27/9/2026). Mengutip laporan resmi, kunjungan itu dilakukan untuk memverifikasi langsung kondisi rumah warga yang masuk sebagai calon penerima bantuan.
Setelah melalui tahap pengecekan dan verifikasi lapangan, rumah Risman dipastikan masuk ke dalam daftar penerima manfaat Program Bedah Rumah yang digagas oleh Kementerian PKP. Proses renovasi total dijadwalkan mulai bergulir pada 15 Oktober 2026 dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada pertengahan Desember mendatang.
Sebagaimana disampaikan oleh pihak berwenang, kasus yang dialami Risman hanyalah puncak gunung es dari persoalan pemukiman kumuh di ibu kota. Data BPS mencatat ada sekitar 821.800 rumah tangga di Jakarta yang masih menghuni bangunan tidak layak huni, di mana separuh lebihnya masih menggunakan atap asbes yang rentan terhadap kesehatan dan keselamatan.