Ketegangan terselubung antara dua kekuatan besar dunia kembali memanas di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa. Wakil Presiden China Han Zheng dengan tegas melontarkan kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat terkait isu Timur Tengah dan Kuba di hadapan forum internasional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Meskipun tidak menyebut Washington secara langsung dalam pidatonya pada Sabtu (26/9), Han menyoroti perlunya penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara Teluk. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, pernyataan ini dilontarkan menyusul ketegangan geopolitik yang melibatkan konflik antara AS-Israel dengan Iran sejak awal tahun.
Selain isu Teluk, Han juga mendesak pihak terkait untuk segera menghentikan ancaman penggunaan kekuatan militer serta mencabut blokade dan sanksi ekonomi terhadap Kuba. Sebagaimana dilaporkan, krisis energi yang melanda Kuba semakin parah akibat blokade minyak yang memperburuk kondisi kelistrikan di negara kepulauan tersebut.
Dari analisis awak media, sikap keras China di PBB ini kontras dengan suasana hangat yang sempat terlihat sebelumnya saat Presiden Donald Trump menyambut pemimpin China Xi Jinping di Gedung Putih. Kendati demikian, isu dukungan Beijing terhadap Iran tetap menjadi ganjalan dalam dialog bilateral kedua negara.
Dalam penutup pidatonya, Han berupaya memposisikan negaranya sebagai mitra terpercaya bagi dunia internasional dan pembela setia negara-negara berkembang. Ia menegaskan bahwa seluruh negara, besar maupun kecil, memiliki kedudukan setara dalam mengelola urusan global.