Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut kedatangan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih dengan penyambutan kenegaraan yang sangat meriah. Pertemuan tingkat tinggi ini sarat akan simbolisme diplomatik, meski para pengamat menilai agenda tersebut minim menghasilkan terobosan substansial di tengah berbagai isu pelik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam pertemuan bilateral tersebut, isu Taiwan kembali menjadi salah satu topik paling sensitif yang dibahas oleh kedua pemimpin negara adidaya ini. Xi Jinping secara tegas mendesak Washington agar menentang kemerdekaan Taiwan, sementara Gedung Putih menghadapi dilema terkait paket penjualan senjata senilai miliaran dolar yang sebelumnya sempat ditahan oleh Trump sebagai alat negosiasi.
Selain persoalan geopolitik, kedua pemimpin juga menyinggung pentingnya menjaga stabilitas hubungan dagang serta kerja sama di bidang teknologi masa depan. Donald Trump sempat menyinggung isu kecerdasan buatan atau yang ia sebut sebagai super intelligence, sementara Xi Jinping menekankan bahwa persaingan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini harus tetap berada dalam jalur yang sehat.
Berdasarkan analisis awak media, kunjungan kenegaraan pertama Xi Jinping ke Washington dalam lebih dari satu dekade ini lebih dimanfaatkan sebagai unjuk gigi prestise politik ketimbang menghasilkan perjanjian bilateral yang mengikat. Kedua pemimpin dinilai sama-sama membutuhkan stabilitas hubungan di tengah tantangan domestik dan konflik global yang sedang dihadapi masing-masing negara.