Perusahaan dirgantara asal Amerika Serikat, Boeing, kembali menghadapi sorotan tajam setelah menemukan celah pada perangkat lunak pesawat 737 MAX. Masalah ini berpotensi memengaruhi sistem panduan penerbangan otomatis saat pesawat melakukan proses pendaratan setelah mengalami kegagalan pendekatan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan internal perusahaan yang dikutip dari Wall Street Journal, kendala tersebut bersumber dari pembaruan perangkat lunak kokpit. Kondisi ini dapat terjadi apabila kru pesawat mengubah jalur penerbangan yang telah direncanakan sebelumnya usai membatalkan pendaratan.
Menanggapi situasi tersebut, pihak Boeing menyatakan telah menyampaikan informasi terkait kendala ini kepada seluruh operator 737 MAX sejak bulan lalu. "We shared information with operators that reinforced existing pilot procedures for safely handling such cases. Our engineers are working on a software update to permanently address the issue," demikian pernyataan resmi manajemen Boeing.
Dari analisis tim redaksi, temuan celah sistem ini kembali menguji tingkat kepercayaan publik serta regulator terhadap standar keselamatan armada 737 MAX. Mengingat sejarah insiden masa lalu, setiap kendala sekecil apapun pada sistem komputer penerbangan pasti akan memicu kewaspadaan ekstra dari maskapai global.
Sementara itu, Federal Aviation Administration menegaskan pihaknya telah mengetahui potensi masalah pada komputer penerbangan tersebut. Otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat itu memastikan akan segera menggelar dewan peninjau tindakan korektif guna mengambil langkah cepat jika ditemukan risiko keselamatan.
Sejumlah maskapai besar seperti Southwest Airlines dan United Airlines dilaporkan telah meminta Boeing untuk menunda pengiriman unit baru yang menggunakan perangkat lunak bermasalah tersebut. Mereka memilih menggunakan versi software sebelumnya demi memastikan keamanan operasional penerbangan.
Hingga kini, baik pihak manufaktur, maskapai, maupun regulator masih melakukan investigasi lanjutan untuk mendata jumlah pesawat yang terdampak. Evaluasi komprehensif terus digalakkan guna memastikan potensi risiko penerbangan dapat diatasi secara tuntas.