Menapaki usia remaja di kawasan pesisir Aceh, Alone tumbuh bukan sebagai anak muda kebanyakan. Berbekal kejujuran dan ketepatan janji tanpa modal sepeser pun, ia menjelma menjadi agen benur udang dan nener bandeng yang dipercaya para petani tambak lintas daerah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bagi Alone, setiap pesanan bukan sekadar urusan niaga, melainkan sebuah amanah suci yang harus ditepati. Rutinitas mengantar bibit ikan hingga ke Sumatera Utara itu dijalaninya sembari merajut mimpi lewat buku-buku pelajaran di sebuah rangkang sunyi.
Namun, kehidupan remaja pesisir tersebut tidak berjalan di atas jalan yang mulus. Di tengah situasi Tanah Rencong yang sedang bergolak akibat konflik bersenjata, langkah kaki Alone kerap dibayangi kecemasan mendalam dari sang ibu yang melepasnya dengan doa.
Puncak ketegangan terjadi ketika sebuah pesanan mendesak mengharuskannya berangkat pada malam hari. Bersama Bang Din Burgek, ia harus melintasi jalur maut Medan–Banda Aceh menggunakan mobil Hiace pikap demi memenuhi janji kepada para petambak di Langsa.
Berdasarkan analisis tim redaksi, kisah ini merekam potret ketangguhan generasi muda di tengah zaman yang kejam. Kehadiran kelompok bersenjata yang menghadang di tengah malam menjadi simbol nyata betapa rentannya kehidupan masyarakat biasa dalam mempertahankan penghidupan.
"Bibit benur sudah terlanjur dipanen dan petani tambak sedang menunggu," ujar Alone menggambarkan keteguhannya menghadapi risiko besar demi menjaga kepercayaan yang telah ia bangun dengan susah payah.