Masyarakat Indonesia harus bersiap menghadapi musim hujan yang datang lebih lambat dari jadwal biasanya tahun ini. Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, awal musim hujan untuk periode 2026/2027 mengalami kemunduran di sebagian besar wilayah Tanah Air akibat dinamika atmosfer global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, fenomena iklim global yang terjadi secara bersamaan menjadi p utama keterlambatan ini. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik menunjukkan angka yang mengindikasikan kategori El Nino sangat kuat, ditambah dengan indeks IOD positif di Samudra Hindia.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," tegas Faisal dalam konferensi pers di Gedung MHEWS BMKG Jakarta.
Mengutip keterangan Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, awal musim hujan di berbagai daerah tidak terjadi secara bersamaan. Sebanyak 185 Zona Musim atau sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia diprediksi baru akan mulai merasakan guyuran hujan pada November 2026.
Wilayah yang mulai diguyur hujan pada November mencakup sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, Bali, NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat bagian utara, hingga sebagian Papua Selatan. Sementara itu, puncak musim hujan secara umum diprediksi akan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.