Ajang balap mobil bergengsi Formula 1 yang kembali menyapa Sirkuit Sepang di Malaysia baru-baru ini sukses menyedot perhatian ratusan ribu pasang mata dari berbagai penjuru dunia. Di balik kemeriahan lintasan dan aksi dramatis para pebalap top dunia, gelaran tersebut ternyata menyisakan catatan merah terkait carut-marut sistem transportasi yang dikeluhkan banyak penonton.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang dihimpun, ribuan penggemar harus menghadapi antrean mengular serta waktu tunggu hingga berjam-jam untuk sekadar menaiki bus penjemputan menuju arena sirkuit. Sebagian penonton bahkan terpaksa berjalan kaki sejauh puluhan kilometer di bawah terik matahari demi bisa menyaksikan langsung jalannya balapan akhir pekan tersebut.
Menanggapi situasi ini, pengamat pariwisata dan transportasi menilai bahwa buruknya manajemen kerumunan berpotensi mencoreng citra positif negara tuan rumah. Sebagaimana diungkapkan oleh para ahli, insiden kemacetan parah ini seharusnya bisa diantisipasi sejak awal mengingat estimasi jumlah penonton yang membludak sudah diprediksi sebelumnya.
Kendati demikian, dari analisis awak media, rekor kehadiran lebih dari 250.000 penonton selama tiga hari penyelenggaraan membuktikan bahwa daya tarik ajang balap jet darat ini masih sangat kuat di kawasan Asia Tenggara. Angka fantastis tersebut sekaligus memecahkan rekor kehadiran penonton tertinggi yang pernah dicatatkan Sepang pada era-era sebelumnya.
Faktor lonjakan penonton ini tidak lepas dari pengaruh serial dokumenter populer serta eksposur media sosial yang berhasil melahirkan generasi penggemar baru di kancah global. "Kehadiran generasi baru penonton membuat tiket laris manis di pasaran," ujar mantan CEO Sepang International Circuit, Razlan Razali, menggambarkan pergeseran tren penikmat balapan saat ini.
Di sisi lain, tantangan terbesar bagi pemerintah Malaysia untuk mewujudkan kembalinya F1 secara permanen berada pada aspek finansial yang membutuhkan anggaran tahunan sekitar RM300 juta. Mengingat tingginya biaya lisensi kepada pemilik hak komersial F1, pemerintah kini masih harus menimbang secara matang untung rugi dari komitmen jangka panjang tersebut.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim sebelumnya menyampaikan sinyal positif bahwa pihak pemerintah tengah membuka komunikasi terkait peluang kembalinya Grand Prix secara reguler. Meski demikian, kepastian tersebut masih memerlukan perencanaan bisnis yang matang serta kajian komprehensif agar tidak menjadi beban finansial bagi negara di masa mendatang.