Hasil Programme for International Student Assessment atau PISA 2025 yang dirilis OECD menunjukkan skor Indonesia masih tertahan di rentang bawah dengan sains di angka 389, membaca 365, dan matematika 364. Berdasarkan data tersebut, sekitar 60,9 persen siswa Indonesia belum mencapai Level 2 yang merupakan ambang batas kemampuan minimum dalam bidang sains, membaca, dan matematika secara bersamaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, beragam perdebatan mengenai stagnasi ini umumnya hanya berputar pada persoalan kurikulum, kualitas pengajar, metode pembelajaran, hingga kesenjangan wilayah. Padahal, pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa ada satu variabel krusial yang sering luput dari perhatian publik maupun pembuat kebijakan, yakni kondisi biologis serta kesiapan mental anak saat proses belajar berlangsung.
Mengutip laporan dari Health Collaborative Center dan Indonesia Health Development Center, skor PISA pada dasarnya merupakan akumulasi dari kesempatan belajar serta kapasitas biologis anak itu sendiri. Sebagaimana dilaporkan oleh para ahli, intervensi kebijakan selama 25 tahun terakhir yang hanya berfokus pada pergantian kurikulum dan anggaran pendidikan ternyata belum mampu mendongkrak skor secara signifikan karena mengabaikan faktor kesehatan dasar.
Kajian strategis terbaru memperkenalkan konsep silent cognitive burden untuk mengidentifikasi beban kognitif tersembunyi pada anak usia sekolah yang sering kali tidak terdiagnosis. Berdasarkan laporan tersebut, masalah kesehatan fisik dan mental yang terabaikan dapat menurunkan kapasitas kognitif secara drastis, sehingga menghambat daya tangkap siswa terlepas dari sebagus apa pun kurikulum yang diterapkan di sekolah.