Tingginya harga pakan pabrikan kerap menjadi batu sandungan bagi para peternak ayam kampung dalam mempertahankan skala usahanya. Persoalan klasik ini menuntut adanya inovasi nyata agar biaya operasional dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas nutrisi bagi ternak. Mengutip laporan tim redaksi, ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan komersial membuat margin keuntungan peternak semakin menyusut dari waktu ke waktu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Medan turun tangan memberikan solusi konkret bagi Kelompok Ternak Maju Bersama. Berdasarkan pengamatan awak media, kolaborasi lintas bidang dari akademisi Fakultas Teknik ini menghadirkan mesin pencacah sayur berbasis kontrol digital di Huta III Sahkuda Bayu, Kabupaten Simalungun. Teknologi mutakhir ini dirancang khusus untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah sayuran dan hijauan lokal di sekitar lingkungan peternak.
Sebelum kehadiran perangkat modern ini, proses pengolahan bahan pakan alternatif sepenuhnya dilakukan secara manual oleh para anggota kelompok. Berbagai bahan potensial seperti daun singkong, kangkung, bayam, hingga sisa sayuran segar belum terserap secara maksimal karena terkendala waktu dan tenaga yang besar. Sebagaimana dilaporkan, metode konvensional tersebut dinilai kurang efisien dan melelahkan bagi para peternak.
Ketua Tim PKM Unimed, Rosma Siregar, M.Kom., menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar memberikan bantuan fisik berupa peralatan semata. Menurut keterangannya, pihak akademisi turut membekali para peternak dengan pelatihan komprehensif agar mampu mengoperasikan dan merawat mesin secara mandiri. "Melalui mesin pencacah sayur berbasis kontrol digital ini, kami ingin membantu mitra mengolah bahan pakan lokal dengan lebih efektif dan efisien," ujarnya.
Dari analisis awak media, penggunaan sistem kontrol digital pada mesin pencacah ini memberikan keunggulan tersendiri dalam hal kepraktisan dan keseragaman hasil cacahan. Ukuran bahan yang seragam tentu akan jauh lebih mudah dicampur dan dicerna oleh ayam kampung. Selain itu, keterlibatan dosen seperti Bagoes Maulana dan Eviyona Laurenta Br Barus serta sejumlah mahasiswa menunjukkan sinergi nyata dunia pendidikan tinggi dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan.
Ketua Kelompok Ternak Maju Bersama, Sutayno, menyambut antusias kehadiran teknologi inovatif yang dibawa oleh sivitas akademika Unimed tersebut. Kehadiran mesin pencacah sayur digital ini diyakini mampu membuka babak baru bagi peternak untuk mengelola pakan secara mandiri dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan potensi lokal yang melimpah, beban biaya produksi diharapkan dapat terpangkas secara signifikan demi kesejahteraan para peternak.