Dulu, kehadiran pusat perbelanjaan besar di Singapura hampir selalu identik dengan department store raksasa yang menjadi magnet utama pengunjung. Sebut saja kejayaan Robinsons di The Centrepoint atau Takashimaya di Ngee Ann City yang menjadi daya tarik utama bagi para pencinta belanja dari berbagai penjuru kota.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Namun, lanskap industri ritel kini berubah drastis setelah pengumuman hengkangnya Metro dari Paragon serta Causeway Point menyusul berakhirnya masa sewa mereka. Fenomena ini menegaskan bahwa kehadiran anchor tenant atau penyewa jangkar berskala besar tidak lagi menjadi satu-satunya penentu utama kesuksesan sebuah pusat perbelanjaan modern.
Berdasarkan analisis tim redaksi, pergeseran tren belanja masyarakat yang semakin mengutamakan pengalaman langsung, kuliner, dan merek gaya hidup membuat pengelola mal harus memutar otak. Pengelola kini lebih mengandalkan variasi tenant yang beragam dan dinamis alih-alih bergantung pada satu penyewa raksasa yang memakan banyak ruang.
Pakar industri komersial menilai bahwa merek-merek yang dulunya hanya bisa ditemukan di department store kini telah menjajakan produknya secara langsung melalui toko mandiri maupun platform digital. "Relevansi department store saat ini telah sedikit terdilusi karena perubahan pola konsumsi masyarakat yang kian kritis," ujar pengamat pasar properti.
Sebagai langkah adaptasi, sejumlah pengelola mal mulai memecah ruang bekas department store tersebut menjadi unit-unit usaha yang lebih kecil dengan konsep yang segar. Strategi ini terbukti efektif untuk mendongkrak pendapatan sewa sekaligus menghadirkan suasana baru yang lebih relevan dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban masa kini.