Kabar mengejutkan datang dari sektor properti badan usaha pelat merah setelah otoritas pengelola investasi strategis melontarkan pengakuan terbuka. Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Dony Oskaria, secara blak-blakan menyatakan bahwa mayoritas perusahaan BUMN yang bergerak di bidang properti saat ini berada dalam kondisi keuangan yang tidak sehat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa sektor perumahan dan pengembangan kawasan yang berada di bawah naungan negara memang tengah menghadapi tekanan likuiditas yang cukup berat. Mengutip laporan resmi, situasi pelik ini memaksa pemerintah untuk turun tangan langsung melakukan konsolidasi menyeluruh guna menyelamatkan kelangsungan bisnis entitas-entitas tersebut agar tidak semakin terpuruk.
"Sebetulnya Danantara Housing itu adalah kita ingin mengonsolidasikan seluruh perusahaan-perusahaan properti kita, tapi teman-teman juga tahu situasinya bahwa seluruh perusahaan properti itu juga tidak dalam keadaan baik," ujar Dony Oskaria saat memberikan keterangan pers di Jakarta, sebagaimana dilaporkan pada Senin, 3 Agustus 2026.
Sebagai langkah konkret penyehatan, manajemen Danantara menerapkan pendekatan korporasi secara ketat terhadap perusahaan pelat merah yang mengalami masalah keuangan akut. Sejumlah instrumen pemulihan bisnis seperti Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) hingga pencatatan penurunan nilai aset atau impairment kini tengah ditempuh untuk membersihkan neraca keuangan perusahaan properti BUMN.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa masalah menahun pada BUMN karya dan properti turut menyeret kinerja anak usaha seperti PT Adhi Commuter Properti Tbk yang sempat tersandung masalah likuiditas dan proyek mangkrak. Melalui restrukturisasi menyeluruh ini, Danantara berharap fondasi bisnis perusahaan bisa kembali pulih dan siap menghadapi persaingan industri properti nasional yang semakin kompetitif.
Setelah proses penyehatan selesai, Danantara berencana melakukan pendataan menyeluruh terhadap total inventori hunian milik BUMN yang selama ini belum terserap oleh pasar. Stok rumah dan apartemen mangkrak atau yang belum terjual tersebut nantinya akan digabungkan ke dalam program Danantara Housing untuk dipasarkan kembali secara masif kepada masyarakat luas.
Guna mempercepat perputaran kas dan mencetak likuiditas baru bagi perusahaan, Danantara tidak berjalan sendirian melainkan menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Perbankan pelat merah ini nantinya bakal meracik produk pembiayaan khusus dengan suku bunga yang lebih murah dan kompetitif, sehingga masyarakat memiliki akses lebih mudah untuk mencicil kepemilikan hunian.
Inisiatif strategis ini diyakini mampu menjadi solusi ganda dalam menyelesaikan krisis properti BUMN sekaligus membantu masyarakat mewujudkan mimpi memiliki rumah layak huni. Dengan kombinasi harga properti yang kompetitif dan skema KPR ringan dari bank pemerintah, tumpukan inventori hunian yang selama ini membebani keuangan perusahaan diprediksi bisa segera terserap tuntas.