Pemerintah Turki mengambil langkah strategis dengan mengirimkan dukungan militer yang berfokus pada aspek pertahanan dan teknis ke Arab Saudi. Bantuan ini bertujuan untuk membantu Riyadh menghadapi ancaman dari kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman, menyusul komitmen pertahanan kolektif yang disepakati oleh negara-negara anggota aliansi baru.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang dihimpun, langkah ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Pertahanan Bersama Mecca yang ditandatangani oleh Turki, Pakistan, dan Arab Saudi pada Agustus lalu. Pakta tersebut menegaskan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota aliansi.
Seorang pejabat Turki yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sejauh ini bantuan yang dikirimkan berwujud peralatan militer, sistem persenjataan, serta kerja sama intelijen. Analisis awak media menilai bahwa keterlibatan Ankara ini menandai babak baru eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Selain perlengkapan tempur, seorang pejabat Amerika Serikat yang mengetahui masalah ini memaparkan bahwa Turki juga mengerahkan operator drone, pakar perencana strategi, serta bantuan logistik. Bantuan tersebut dirancang untuk menyempurnakan sistem pertahanan udara dan pengintaian taktis di Arab Saudi.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam rapat darurat aliansi di Riyadh menyatakan bahwa para pejabat tinggi militer kedua negara telah membahas secara mendalam berbagai isu operasional dan teknis. Pertemuan ini memperkuat sinergi pertahanan di antara negara-negara anggota.
Juru bicara Partai AK yang berkuasa di Turki, Omer Celik, menyampaikan bahwa pakta pertahanan tersebut akan segera diserahkan kepada parlemen untuk diratifikasi dalam waktu dekat. Proses ratifikasi ini nantinya akan memperjelas cakupan dan eskalasi bantuan lanjutan yang akan diberikan kepada Arab Saudi.