Arus modal raksasa yang menggelontor ke sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence berpotensi mengalami pergeseran fokus. Berdasarkan pengamatan dalam ajang Forbes Global CEO Conference di Singapura, dana segar tersebut dinilai tidak hanya akan terkonsentrasi pada cip dan infrastruktur, melainkan mulai menyebar secara lebih merata ke ranah adopsi teknologi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut pandangan CEO Temasek Holdings Dilhan Pillay Sandrasegaran, gelombang investasi saat ini sangat masif mengalir ke berbagai lapisan ekosistem, mulai dari sektor energi, cip, hingga infrastruktur inti. Kendati demikian, ia mengingatkan pentingnya kalkulasi mendalam terkait ketersediaan modal bagi perusahaan yang ingin melakukan transformasi digital dan adopsi lanjutan di masa depan.
Berdasarkan analisis awak media, langkah Temasek melepas sebagian kepemilikan aset pusat data melalui anak usahanya mencerminkan kehati-hatian dalam mengelola risiko jangka panjang. "Anda harus memikirkan hari esok ketika Anda menjadi pemilik sebuah bisnis, dan tingkat toleransi risiko Anda berbeda dengan investor biasa," ungkapnya dalam sesi panel konferensi tersebut.
Di sisi lain, miliarder investor Ray Dalio menyampaikan pandangan yang lebih berhati-hati dengan menyebut fenomena demam teknologi ini sebagai bentuk gelembung klasik yang mendekati fase jenuh. Menurutnya, siklus pasar yang dibarengi kenaikan suku bunga berisiko memicu tekanan lanjutan apabila ekspansi pendanaan infrastruktur terus melaju tanpa kendali.
Sementara itu, Direktur Utama DBS Tan Su Shan turut menekankan pentingnya membangun budaya perusahaan yang adaptif dalam menghadapi disrupsi teknologi. Pihaknya menegaskan bahwa strategi transformasi digital harus berfokus pada pelindungan sumber daya manusia melalui peningkatan kapasitas agar pekerja dapat beradaptasi dan naik tingkat di tengah era otomatisasi.