China terus menunjukkan taringnya sebagai salah satu kekuatan ekonomi dan pusat teknologi global yang diperhitungkan dunia. Di balik pesatnya kemajuan tersebut, tersimpan fondasi kuat yang dibangun dari tingginya minat baca serta budaya literasi yang mengakar di tengah masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan survei nasional yang dirilis oleh Chinese Academy of Press and Publication, tingkat kemampuan membaca komprehensif orang dewasa di Negeri Tirai Bambu pada tahun 2025 mencapai angka yang mengesankan yaitu 82,3 persen. Angka ini menunjukkan tren positif yang konsisten merangkak naik dari tahun-tahun sebelumnya.
Dari analisis tim redaksi, masifnya budaya literasi ini tidak lepas dari ekosistem penerbitan yang mendapat sokongan kuat dari pemerintah maupun pihak swasta. Berbagai lembaga seperti China's National Publication Foundation secara konsisten memberikan suntikan dana dan bantuan bagi ribuan proyek penerbitan unggulan guna memastikan ketersediaan bahan bacaan berkualitas.
Kendati demikian, menarik untuk diselisik lebih jauh mengenai faktor penunjang keterjangkauan bahan bacaan bagi publik. Menurut Director General Xinhua News Agency di Indonesia, Cao Kai, banderol harga buku di China sebenarnya tidak bisa dikatakan murah jika dibeli dengan harga normal.
Kendati demikian, masyarakat tidak pernah merasa terbebani karena toko-toko buku di sana selalu menghadirkan penawaran menarik berupa potongan harga yang masif. "Namun ketika membeli buku selalu ada diskon, mungkin 30 persen sampai 50 persen diskon," ungkap Cao Kai saat ditemui di Jakarta.
Cao Kai juga menambahkan hasil pengamatannya bahwa harga buku di Indonesia terkadang terasa jauh lebih mahal jika dikomparasikan dengan kondisi di negaranya. Berdasarkan perbandingan tersebut, ia menilai bahwa harga buku di China bisa jauh lebih terjangkau berkat kultur diskon yang konsisten diterapkan oleh para pelaku industri buku di sana.