Sebanyak hampir 1.500 migran asal Myanmar yang sebelumnya berada di Malaysia akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran mereka pada Minggu. Berdasarkan laporan dari awak media di lapangan, tiga kapal angkatan laut yang membawa para migran tersebut telah bersandar di pangkalan Angkatan Laut Myanmar di Thanlyin sejak pagi hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Proses pemulangan ini langsung menarik perhatian publik setelah kapal-kapal tersebut merapat. Ratusan anggota keluarga tampak berkumpul di luar kawasan pangkalan militer sejak fajar demi menyambut dan menjemput kerabat mereka yang telah lama terpisah di pusat-pusat detensi Malaysia.
Berdasarkan analisis tim redaksi, kebijakan repatriasi kontroversial ini dilakukan di tengah meningkatnya sentimen anti-pengungsi di Malaysia. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebelumnya mengumumkan rencana pemulangan total 5.000 migran Myanmar menyusul tekanan sosial dan ekonomi yang dirasakan negara tersebut.
Kendati pemerintah Malaysia mengeklaim bahwa pemulangan dilakukan secara sukarela bagi mereka yang telah menyelesaikan masa tahanan, lembaga hak asasi manusia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa melontarkan kritik tajam. PBB menegaskan bahwa situasi di Myanmar saat ini masih sangat berbahaya akibat konflik bersenjata berkepanjangan pascakudeta militer 2021.
Ketegangan kian memuncak karena adanya kekhawatiran bahwa kelompok minoritas tertindas seperti etnis Rohingya turut menjadi bagian dari gelombang pemulangan ini. Sejumlah keluarga migran mengaku cemas akan keselamatan kerabat mereka, terutama ancaman wajib militer paksa maupun risiko kekerasan dari pihak militer serta kelompok bersenjata etnis.