Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato yang memicu kehebohan besar dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-81 di New York. Di tengah situasi politik domestik yang mendesak dan kampanye pemilihan ulang yang ketat, Netanyahu memanfaatkan panggung global tersebut untuk melancarkan kritik tajam kepada berbagai pihak, mulai dari musuh bebuyutan hingga sekutu tradisional Israel.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Suasana sidang langsung memanas ketika puluhan delegasi negara memutuskan melakukan aksi walkout sebagai bentuk protes, disertai sorohan dan ejekan di dalam ruangan. Sebaliknya, delegasi pendukung Netanyahu di barisan depan justru berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Menanggapi gelombang penolakan tersebut, Netanyahu melontarkan kalimat menohok, "Jika ada pengecut moral lain yang belum meninggalkan aula ini, silakan lakukan sekarang."
Dalam pidatonya, Netanyahu tidak hanya menyoroti Iran yang disebutnya sebagai diktator pembunuh, tetapi juga menyerang para pemimpin barat termasuk dari Inggris dan Prancis terkait kebijakan kolonial masa lalu serta sanksi ekspor. Ia juga mengecam Wali Kota New York Zohran Mamdani sebagai sosok antisemit setelah ancaman penerapan surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional atau ICC terhadap dirinya.
Berdasarkan analisis awak media, langkah provokatif yang diambil Netanyahu ini merupakan strategi politik domestik untuk mengamankan basis pendukung konservatif di tengah persaingan pemilu yang sangat ketat di Israel. Pengamatan tim redaksi menilai bahwa ketegangan diplomatik yang semakin melebar ini berpotensi mengisolasi posisi Israel lebih jauh di panggung internasional.