Di tengah gempuran tuntutan produktivitas era digital, sebagian warga dewasa di Singapura justru melirik cara baru untuk menyegarkan pikiran lewat kelas informal yang digelar di dalam bar. Fenomena unik ini menghadirkan pengalaman menimba ilmu tanpa tekanan ujian akademik maupun target karier yang kaku, melainkan murni demi memuaskan rasa penasaran terhadap berbagai topik tak biasa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan awak media, salah satu kegiatan populer tersebut diinisiasi oleh komunitas Remedial Kids yang rutin menghadirkan pakar untuk membahas topik di luar kebiasaan. Dalam salah satu sesinya, seorang peneliti memaparkan sejarah serta evolusi cerita hantu di Singapura dari masa prasejarah hingga era modern di hadapan puluhan peserta yang menikmati koktail.
Menurut analisis tim redaksi, tren kelas santai ini berkembang pesat karena orang dewasa mulai merasa jenuh dengan rutinitas harian yang selalu berorientasi pada hasil kerja atau pencapaian profesional. Kegiatan semacam ini memberikan ruang bagi individu untuk kembali menikmati proses mencari tahu tanpa harus memikirkan nilai rapor ataupun kenaikan jabatan.
Sebagaimana dilaporkan oleh para ahli pendidikan orang dewasa, pembelajaran yang didorong oleh rasa ingin tahu murni memiliki nilai tersendiri bagi perkembangan mental seseorang. "Sepertinya pembelajaran yang dianggap tidak berguna ini tetap memiliki nilai karena perkembangan manusia itu sendiri adalah hasil belajar yang sah," ujar salah satu narasumber menguraikan esensi dari kegiatan tersebut.
Meski demikian, menumbuhkan minat belajar di tengah kesibukan harian kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja dewasa yang sering kali mengorbankan waktu luang demi menyelesaikan pekerjaan kantor. Kehadiran komunitas sosial yang mewadahi ruang interaksi langsung dinilai mampu menjadi motivasi tambahan agar masyarakat tetap meluangkan waktu memperluas wawasan.