Pemerintah Hong Kong mengambil langkah ambisius dengan meratakan kawasan pedesaan, lahan basah, dan perkampungan tradisional demi membangun megaproyek pusat teknologi raksasa bernama Northern Metropolis. Proyek berbiaya fantastis yang diperkirakan mencapai US$ 28 miliar ini dirancang untuk mendalamkan integrasi wilayah tersebut dengan daratan Tiongkok serta mendiversifikasi perekonomian lokal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi dari laporan yang dihimpun, proyek skala besar ini mencakup sepertiga wilayah Hong Kong dan diproyeksikan menampung sekitar 2,5 juta penduduk serta menciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru. Kendati demikian, kebijakan transformatif ini menuai kritik tajam karena mengorbankan ruang hidup masyarakat lokal, kelestarian margasatwa, serta membebani keuangan publik.
Sejumlah warga terdampak tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka saat harus meninggalkan tanah kelahiran yang telah ditinggali selama turun-temurun. Sebagaimana dilaporkan, puluhan desa tradisional terancam digusur total demi kelancaran pembangunan kawasan ekonomi baru yang menyerupai Silicon Valley tersebut.
Kelompok pemerhati lingkungan dan pengamat ekonomi turut mempertanyakan efektivitas serta skala raksasa dari proyek yang diumumkan sejak lima tahun lalu ini. Berdasarkan pengamatan awak media, tantangan terbesar bagi pemerintah setempat adalah menjaga keseimbangan arus lintas batas tanpa mengorbankan keunikan sistem internasional yang selama ini menjadi daya tarik utama Hong Kong.